Senin, 18 Januari 2016

Bunga Layu Kampung Buloh

Cinta buta yang menutup hatimu, antara cinta atau nafsu. Ujung Borneo, 1 Januari 2016, hari ini untuk pertama kalinya Mas Jambang bertemu lagi dengan Eci bunga desa Kampung Buloh yang pernah dirindukannya. 

Rindu yang tidak sengaja tumbuh atau dipaksa untuk tumbuh, yang diawal cerita ingin melindungi namun berakhir menodai. 

Malam ini Mas Jambang sengaja mengajak Eci untuk jalan-jalan menikmati pantai Kenangan, mencoba bernostalgia dan melanjutkan cinta yang pernah ada sambil menikmati dinginnya pasir pantai yang diselimuti pekatnya malam serta diiringi alunan deburan ombak. 

Alam pun Seolah-olah mendukung pelepasan rindu mas Jambang malam ini, yang sebelumnya seperti Punuk merindukan rembulan, kini bulan sendiri yang sengaja penuh hasrat menghampirinya. 

Janji-janji cinta yang tersimpan sangat lama yang dahulu tak sanggup untuk di ungkapkan karna cinta sudah terlanjur tertanam di lain hati, malam ini tersampaikan secara sempurna.  

Tanpa terasa malam terlewati hanya dengan satu kedipan mata, rindu yang menggebu-gebu terpaksa ditahan karna pagi hampir menjelang. 

Tibalah saatnya bagi mas Jambang untuk mengantarkan Eci pulang, keduanya bergandengan tangan dan mengayunkannya sebagai tanda kekecewaan karna malam terlampau cepat berlalu. “Malam esok akan ku coba lagi” teriak Mas Jambang dalam hati, karna rindu berbalut nafsu masih meronta-ronta didalam hati. 

Ditengah perjalanan pulang tanpa sengaja Mas Jambang dan Eci bertemu teman-teman serta tokoh desa Kampung Buloh, rasa malu menghampiri keduanya namun apa mau dikata “nasi sudah menjadi bubur” malu biarlah menjadi malu karna memang sudah kepalang rindu. 

Bangun dipagi hari, senyum Mas Jambang tak berhenti mengembang mengingat hasrat yang semalam. Pagi ini Mas Jambang melanjutkan aktivitas seperti biasa, mandi kemudian sarapan lalu dilanjutkan berbincang-bincang dengan teman-teman seperjuangan. 

Mas Jambang adalah mahasiswa dari kota Seminyak, ia dan teman-teman sengaja menghabiskan waktu liburan kali ini untuk bersilaturahim dengan warga Kampung Buloh, yaitu tempat Mas Jambang dan teman-teman pernah melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dari kampusnya. 

Hingga malam pun tiba, tiba pula saatnya bagi Mas Jambang untuk melanjutkan kisah yang tertunda semalam. Mas Jambang menjemput Eci dirumahnya, senyum manis dilontarkan Mas Jambang kepada pamannya, karna memang Eci hanya tinggal bersama pamannya setelah kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan mobil. Senyum manis Mas Jambang sebagai isyarat niat baik yang dibawa olehnya. 

Lagi-lagi Mas Jambang dan Eci pergi ketempat kemarin namun lebih jauh dari jangkauan orang berpacaran pada umumnya, berdua berjalan menyusuri pantai yang tak berujung hingga cahaya tak dapat terlihat lagi. 

Berdua memadu kasih, janji setia di ucapkan berkali-kali “Pantai tidak pernah menghianati lautan”.“Malam ini aku milikmu dan kau milikku” sudah tak terhitung kata-kata mesra nan “romantis” yang keluar dari mulut mereka sebagai tanda bahwa malam ini bukan hanya sekedar canda dan tawa yang mereka inginkan. 

Malam terus berlalu seiring berjalannya waktu, hingga tibalah saatnya pelepasan hasrat untuk terakhir kalinya, karna esok sang pangeran Mas Jambang akan kembali kepangkuan sang istri di ibu kota. 

Jam ditangan sudah menunjukan pukul 12.00 malam, ini menandakan sudah tiba waktunya untuk mengantar Eci pulang. Terasa berat keduanya untuk mengakhiri kemesraan malam ini, namun apa mau dikata waktu tidak lagi mau menunda perputarannya untuk sebuah kemesraan yang terlarang ini. Ucapan selamat malam Mas Jambang terasa amat menyakitkan untuk dilantunkan namun kecupan manis Eci mampu meredam rasa sesak di dada akibat gejolak hasrat perpisahan mereka. 

Waktu terus berputar menuju pagi, namun mata kedua sejoli terlarang ini tak dapat terlelap, memandang langit-langit kamar, memikirkan apa yang telah mereka lakukan malam ini, dilema terus menghantui “apakah ini penyesalan yang tengah ku alami?” hingga tanpa terasa kelopak sudah menutup biji mata mengakhiri rasa yang ada. 

Pagi pun menjelang, Mas Jambang dan kawan-kawan sudah bersiap-siap untuk pergi meninggalkan Kampung Buloh dan semua kenangan yang tercipta. Mereka berpamitan dengan penduduk sekitar, Mas Jambang menyempatan diri menghampiri Eci untuk mengucapkan selamat tinggal dan lupakan apa yang terjadi semalam, Eci menganggukan kepala tanda mengerti, Mas Jambang dengan sigap langsung memeluk Eci agar kenangan semalam tidak terlalu meninggalkan perih. 

Namun sungguh lembut hati seorang wanita, tetes air mata tak dapat Eci tahan, entah ini tangisan penyesalan semalam atau murni karna perpisahan. (“Hati wanita seperti bawang merah, untuk membukanya laki-laki harus rela meneteskan air mata dan berlapis-lapis, namun pengorbanan tersebut bukan jaminan bahwa pria akan mengerti isi dari hati seorang wanita karna terlalu banyak lapisannya” intermezo

Mas Jambang pergi meninggalkan semua kenangan yang terjadi, sementara Eci harus menanggung semua kenangan yang telah ia alami. “Ibarat tisu yang terkena tetesan tinta, selamanya akan ternoda” 

Penyesalan tinggal penyesalan, kenikmatan sementara harus dibayar mahal dengan seumur hidup rasa terhina. 

Kumbang yang hinggap menggoda bunga yang mekar dan merona, bunga pun menaruh harapan “semoga kumbang dapat menjagaku seumur hidupnya” sari pun diberikan hingga layu tak dapat dielakan, namun sayang kumbang yang hinggap hanya ingin menghilangkan dahaga. Bunga layu di batang, tertunduk lesu karna penyesalan.

Label:

Selasa, 29 Desember 2015

BUKAN CINTA MONYET BIASA II (RUSSIAN ROULETTE : THE GAME OF DEATH)

Setelah pertempuran terjadi antara 2 gank monyet, yang pada akhirnya solusi untuk menghindari korban berjatuhan adalah Russian Roulette.


Kedua pemimpin mengambil posisi, bersiap untuk bertarung mempertaruhkan harga diri. 

menggunakan senjata Revolver yang hanya diisi dengan satu peluru kemudian diputar lalu ditodong dan ditembakan kekepala pemain, jika beruntung maka akan selamat. Permainan ini sangat dekat dengan malaikat maut, jika tidak berutung maka kematian akan datang berkunjung.


Karna didunia monyet tidak ada senjata Revolver, maka mereka menggantinya dengan pisang. Iya, pisang yang biasanya dijadikan makanan kini pisang dapat dijadikan alat pembunuhan. Caranya bagaimana? Caranya adalah disiapkan pisang sebanyak-banyaknya, kemudian ¼ dari jumlah keseluruhan dijadikan lembek dengan cara diremas-remas namun tidak membuat kemasan jadi merusak. Kemudian pisang yang lemas dicampur dengan yang masih segar dan dimasukan kedalam sebuah wadah besar serta ditutupi dedaunan agar pisang tidak dapat dipandang oleh para pemain. 


Nah, cara bermainnya para pemain memasukan tangannya kedalam wadah yang telah disiapkan untuk mengambil pisang dengan cepat kemudian dicolokan kemata lawannya, siapa yang mampu bertahan dengan colokan tesebut maka dia adalah pemenangnya.


Permainan Russian Roulette ala coboy hutan azamon ini dapat menyebabkan iritasi pada mata dan mejadikan mata agak sedikit kabur. 

 Permainanpun dimulai dengan “Suit (gunting batu keras)” pemenangnya dapat memulai lebih dulu.
Sang Pageran monyetpun tampak bersamangat, tidak mau kalah Palak Lab musuhpun memberikan senyuman sinis yang ditaburi dengan kesombongan. Suit pertama dimulai, daaaaaaaaaaaaaan..

Dimenangkan oleh Palak Lab musuh, senyumnyapun makin melebar, dengan sigap Palak Lab mengambil pisangnya (maksunya pisang didalam wadah) dengan cepat, kemudian langsung dicolokan kemata Sang Pangeran, Sang Pangeranpun mengerang kesakitan, ternyata pisang segar yang terpilih. Suara riuh penoton menelan rasa pedih Sang Pangeran.

Suit kedua kembali dilakukan, lagi lagi, Sang Pangeran harus menelan kekalahan. Para penonton dari pihak musuhpun semakin berteriak-teriak tidak karuan mengiringi jalannya permainan. 

Mata Sang Pangeran memerah seperti orang kesurupan (monyet bisa kesurupan nggak ya?). Colokan demi colokan harus diterima dengan jantan. Tanpa ampun Palak Lab melakukannya dengan kejam.

Bapak dan Ibu monyetpun menggelengkan kepala sebagai simbol rasa tidak percaya dan ini adalah tanda kekalahan akan tiba. 

Namun optimisme masih ditujukan oleh The Prince of Monkey, semua ini pasti akan berakhir dengan kemenangan.

Permainan sudah berjalan sekitar 1 jam, Ntah sudah berapa banyaknya colokan demi colokan mendarat ke mata Sang Pangeran.

Hingga tiba lah waktunya sang pangeran mendapatkan giliran, suara penonton mendadak sepi (seperti hati penulis cerita ini..hiks). bukan, tapi seperti suasana kuburan dimalam hari.

Senyum kedua orang tua Pangeran tampak mengembang, terutama dari sang ibu yang sedari tadi merasa gusar tak karuan.

Penuh dengan rasa dendam Sang Pangeran mengambil pisang dengan sangat cepat kemudian dicolokan, Palak Lab musuh menggelapar mengerang tidak karuan tampak darah berceceran di atas sasana rumput pertandingan.

Para penonton berlari kearah sasana pertandingan, menolong Palak Lab yang sudah sangat kesakitan. 

Sang Pangeranpun heran kenapa bisa terjadi seperti ini, rasa tidak percaya mulai menghampiri, kenapa bisa menang secepat ini.

Setelah berfikir sejenak, baru disadari bahwa yang dicolokan tadi bukanlah pisang melainkan sebuah ranting pohon yang amat tajam. Wajar saja jika Palak Lab menggelapar kesakitan.

Pertikain nyaris terjadi lagi, karna Palak Lab menganggap adanya konspirasi dan sabotase. Namun apa mau dikata, jika pertarungan dilanjutkan maka kemenangan tetap menjadi milik pihak Sang Pangeran.

Dengan terpaksa Palak Lab undur diri untuk menghindari korban berjatuhan. Dan palak lab harus merelakan sebagian teritori dikuasai serta hidup berdampingan untuk sementara waktu yang tidak dapat ditentukan.

Namun dendam tetaplah dendam “Gigi dibalas Gigi, Mata dibalas Mata”. Rencana mulai disiapkan, untuk mengusir Sang Pangeran dan Rombongan.


Label:

Minggu, 27 Desember 2015

Bukan Cinta Monyet Biasa (The Beginning)


Langit biru membelah dunia diatas hutan Azamon. Terbuka sepasang mata untuk melihat dunia yang fana pertama kalinya. Mata yang indah, dan digadang-gadang kedatangannya dengan penuh harapan dan mimpi-mimpi.

Suara gaduh sorak-sorai terdengar ditelinga malaikat kecil untuk pertama kalinya, ketakutan pun menghinggapi, tangispun pecah sebagai solusi, namun ternyata suara gaduh semakin riuh. 

Kehadirannya sudah dinanti cukup lama, hingga batin terlampau sering putus asa, namun putus asa tinggallah putus asa karna yang dinanti telah tiba.

Seekor monyet kecil baru saja lahir kedunia, seekor monyet kecil yang sudah dinanti kedatangannya untuk meneruskan kejayaan yang baru saja dirintis Palak Lab kelompoknya.

Bayi monyetpun tumbuh dengan begitu cepat, mulai dari hanya merangkak hingga tetap merangkak.
Bayi monyet tumbuh ditengah badai krisis persaingan antar kelompok. Namun, sebuah keberuntungan untuk monyet kecil karena memiliki ayah monyet yang amat tangguh. Dari tempat satu ketempat lainnya ditempuh untuk menguasai dan membuat musuh bersimpuh.

Tidak terasa, monyet yang dulu hanya bisa merangkak kini sudah dapat berlari sambil merangkat. Monyet yang dahulu hanya bisa menangis ketika sedang lapar, kini ia menjadi monyet desawa yang memiliki suara menggelegar.

Senyum bangga tampak menyungging kedua bibir orang tuanya, kini ayah monyet dapat bernafas lega karna penggantinya sudah dapat merangkak secara gagah dihadapannya.

Hingga tibalah waktunya untuk menguji kehebatan The Prince Of Monkey ini, ia di percaya untuk memimpin migrasi kelompoknya mencari tempat yang baru. Perjalanan dimulai, hingga bertemulah dengan salah satu kelompok terkuat dibagian barat hutan azamon, pergesekan gengsi dan persainganpun tak terhindarkan, terjadilah pergulatan antar dua kelompok. Rasa gugup menghinggapi The Price Of Monkey, karna ini baru pertama kali, pukulan demi pukulan terlampau sering membelai wajah dengan kasarnya dan seperti membuat otaknya terpotong menjadi partikel-partikel kimia dan keluar melewati telinganya. Hingga muncullah sebuah ide gila didalam pikirannya untuk mengakhiri ini semua, kemudian dia menghentikan pergumulan antara dua kelompok ini dengan suara menggelegarnya, “aaaaaaaaaaaaaarggghh” semua monyet yang tengah dibuai asiknya perang berhenti mendadak. Kecuali seekor monyet dari kelompok musuh yang sudah terlanjur mengayunkan lengannya ke arah wajah The Prince Of Monkey, belaian kasarpun tak dapat dihindari. Sempat membuatnya sedikit ingin pingsan, namun tidak menyurutkan semangatnya.

Mulai berpidatolah Sang Pangeran “aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr, aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr, aaaagrr aaaaaggrr” sambil menepuk-nepuk dada, ia berbicara dengan lantang dan PDnya “aaaagggrr aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr, aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr aaaagggrr aaaagrr aaaaaggrr aaaagggrr” semua mendengarkan dengan seksama, meskipun ada beberapa monyet tidak memahaminya, karena memang mungkin mereka tidak sekolah.

Namun, inti dari pidato Sang Pangeran adalah ajakan untuk melakukan RUSSIAN ROULETTE guna menghindari pertumpahan darah dan ia tidak mengingikan terlalu banyak janda monyet di antara kedua kelompok nantinya.
Tantangan one by one seperti sebuah hinaan untuk kelompok musuh, tantangan diterima, tempat disiapkan. Sang Pangeran mengambil posisi untuk menggatikan ayahandanya Fighting langsung dari Palak Lab (pemimpin kelompok) musuh.
Saling menatap tajam, seperti tatapan mantan yang dahulu pernah kita campakan. Keduanya berhadap-hadapan saling menunjukan taring yang berlumuran air liur menjijikan.

Pertarungan pun dimulai….


Label:

Jumat, 25 Desember 2015

Sang Alumni Hati

Matahari sudah menampakan senyumnya. Borneo, Desember 2012 terbangun seorang pria hebat dari tidur panjangnya, setelah semalaman mencoba mengadu nasib dengan pedangnya. Membuka mata dengan agak berat seperti di lem paling super didunia. Namun, ia tetap paksakan, karna ada alasan mengapa harus bangun dipagi yang sangat cerah ini, secerah masa depan dalam khayalan.

Semalaman mengumpulkan keberanian yang dibalut rasa rindu yang menggebu-gebu, setelah sekian lama memedamkan diri dalam lautan amarah penyesalan. Ucapan “selamat ulang tahun” coba ia kirimkan kepada wanita hebat yang pernah menakhlukan hatinya. Seorang wanita hebat yang hanya dengan menyebutkan namanya saja hati bergetar, seluruh bulu halus ditengkuk merinding tidak karuan, Pikiran melayang-layang, sejenak terasa seperti orang yang hilang kesadaran, meski yang sebenarnya terjadi hanyalah ilusi yang membawanya memasuki dunia khayalan yang tidak pernah ia usahakan.
Pagi ini terbangun dengan membawa sejuta harapan, adakah balasan pesan yang ia kirimkan semalam, semoga bukan undangan pernikahan yang engkau kirimkan wahai wanita pujaan. Dengan menarik nafas sangat dalam kemudian dihembuskan dengan melafazdkan Basmallah ia membuka pesan, meski agak sedikit canggung dan beberapa kali menjatuhkan handphone, tapi tidak menyurutkan semangatnya, pesan terbuka dan terbaca “terima kasih pria hebat” dengan tambahan emoticon senyum sebagai penutupnya.

Balasan pesan yang dikirim wanita pujaan, membuatnya girang tak karuan, menahan senyum yang terus memaksa bibirya untuk terbuka lebar dengan tawa kebahagian, ia mencoba untuk membuka obrolan agar ini tidak berhenti sampai disini.

Membalas pesan dengan permohonan “jangan berdo’a minta banyak-banyak, soalnya do’amu paling cepat terkabul, apalagi minta nikah, jangan !“ pesan ia tutup dengan emoticon tertawa lebar, seolah-olah ini hanya guyonan, meski yang sebenarnya didalam hati ada harapan “semoga engkau tidak menikah di tahun ini atau aku akan mengacaukan pernikahanmu, akan kucuri janur kuningmu dan ku ganti dengan pelepah kelapa keringku”… mungkin terdengar sedikit kejam dan ini bukanlah sesuatu yang pantas untuk dijadikan harapan, namun semuanya tak dapat dinafikan, semua ini terjadi karna rasa yang masih ada dan ketidakrelaan yang terus merasuk kedalam jiwa yang telah menutup mata dan hatinya.


Pesan terkirim, harapan terpanjatkan semoga pesan terbalaskan tanpa undangan pernikahan…….

Label: